Senin, 10 Oktober 2011

Renungan Malam

Untuk apa bersikut memperebutkan sekeping emas jika kita akan mati besok
Sampai-sampai menggadaikan pakaian dan bertelanjang
Lupa bahwa mahalnya emas tak dapat menyelamatkan kita
Dari hantaman godam kelak di lahat

Bukankah sebaiknya kita bahu membahu
Bersama melangkah di jalan kebenaran
Untuk janji-janji yang pasti akan ditepati

Lupakan sejenak hiruk pikuk orang-orang
Di pasar
Di mall
Bahkan di bioskop-bioskop

Ingat saja diri kita yang belum tentu selamat
Yang belum tentu menuai bahagia

Di malam yang hening ini
Aku memandang jauh ke dalam diriku yang kotor
Masih adakah harapan
Untuk bisa melepaskan diri dari belenggu dunia
Yang selama ini melilit hingga buta mataku untuk melihat akhirat
Akhirat yang masih panjang

Akankah kita akan terus berjalan menunduk
Dan tidak berani memandang ke depan
Dimana nampak jelas dalam firman-Nya
Tentang jalan yang kemudian akan kita jelang

Semua hati akan tertunduk
Semua mata akan berpaling
Bukan karena tak peduli
Tapi karena takut untuk mengakui bahwa jalan itu memang sangat terjal

Dan semakin pudarlah kemilau emas yang diperebutkan tadi
Kemudian berubah menjadi kelam yang menggulung kita
Hingga tak mampu lagi kita melihat

Akan seperti apa kita nantinya
Berhias wajah berbalut senyum
Ataukah menangis dan meraung sejadi-jadinya
Dan hilanglah kebahagiaan dari kemilau emas

Detik demi detik ternyata sangat berharga
Kini mungkin kita melalaikannya
Tapi kelak hanya sesal yang ada
Sungguh perjalanan yang panjang

Sebersit harapan, harus selalu dipelihara
Setitik keraguan, harus hilang dalam sepi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar