Untuk apa bersikut memperebutkan sekeping emas jika kita akan mati besok
Sampai-sampai menggadaikan pakaian dan bertelanjang
Lupa bahwa mahalnya emas tak dapat menyelamatkan kita
Dari hantaman godam kelak di lahat
Bukankah sebaiknya kita bahu membahu
Bersama melangkah di jalan kebenaran
Untuk janji-janji yang pasti akan ditepati
Lupakan sejenak hiruk pikuk orang-orang
Di pasar
Di mall
Bahkan di bioskop-bioskop
Yang belum tentu menuai bahagia
Di malam yang hening ini
Aku memandang jauh ke dalam diriku yang kotor
Masih adakah harapan
Untuk bisa melepaskan diri dari belenggu dunia
Yang selama ini melilit hingga buta mataku untuk melihat akhirat
Akhirat yang masih panjang
Akankah kita akan terus berjalan menunduk
Dan tidak berani memandang ke depan
Dimana nampak jelas dalam firman-Nya
Tentang jalan yang kemudian akan kita jelang
Semua hati akan tertunduk
Semua mata akan berpaling
Bukan karena tak peduli
Tapi karena takut untuk mengakui bahwa jalan itu memang sangat terjal
Dan semakin pudarlah kemilau emas yang diperebutkan tadi
Kemudian berubah menjadi kelam yang menggulung kita
Hingga tak mampu lagi kita melihat
Akan seperti apa kita nantinya
Berhias wajah berbalut senyum
Ataukah menangis dan meraung sejadi-jadinya
Dan hilanglah kebahagiaan dari kemilau emas
Detik demi detik ternyata sangat berharga
Kini mungkin kita melalaikannya
Tapi kelak hanya sesal yang ada
Sungguh perjalanan yang panjang
Sebersit harapan, harus selalu dipelihara
Setitik keraguan, harus hilang dalam sepi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar