![]() |
| Sumber gambar : http://gambarhidup.blogspot.com |
Pagi hari, sekitar 300 meter dari tempat pembataian kapal laut tersebut, nampak sesosok tubuh pemuda yang lemas. Nampah sebatang kayu sepanjang 1 meter lebih dalam pelukannya. Ya... Hanya ia lah satu dari seratus orang yang masih Allah beri kesempatan hidup. Setelah melewati perjalanan yang sulit dan nyaris mati. Sedikit demi sedikit ia mulai sadar, nampak hamparan pasir dan birunya laut yang ada depan mata. Tidak ada lagi jerit tangis seperti yang ia dengar tadi malam. Apakah ini surga atau kah neraka?? Sesaat kemudian ia pun meringis kesakitan, ada luka di kakinya yang terasa sangat perih karena terbasuh asinnya air laut. "Aku masih hidup?.. Ya.. aku masih hidup". Ia pun melirik kanan kiri, tak seorang pun tampaknya yang bersamanya. Berteriaklah dia " Tuhan... Teganya Kau pada ku. Kau biarkan aku sendiri disini, tanpa sedikit pun bekal untukku, tanpa seorang pun teman bersamaku". Sembari menangis sejadi-jadinya ia mengulang-ulang keluhannya itu.
Hari-hari menyedihkan sekaligus melelahkan pun ia jalani. Mencari kayu bakar dan makanan ke hutan, tidur di bawah naungan langit dan menghindari sergapan hewan buas menjadi pelajaran yang dijalaninya tiap hari. Setelah mulai beradaptasi dengan keadaannya saat ini, tiba-tiba dia pun harus mendapat ujian lagi. Ya.. Malam sunyi tiba-tiba berubah mencekam setelah sebuah gelombang besar menghantam pulau kecil nya itu. Alas tidurnya pun raib, sementara ia harus memanjat pohon untuk menghindari tarikan gelombang dahsyat tersebut. Sekitar setengah jam lamanya peristiwa itu terjadi dan meninggalkan banyak sekali kayu-kayu yang tiada lain adalah sisa-sisa bangkai kapal laut yang ia tumpangi dulu. Di heningnya malam tersebut, ia berteriak "Tuhan.. Teganya Kau padaku. Setelah kau gagal menenggelamkan ku malam itu, kini kau kirim lagi gelombang pasang untuk menenggelamkanku".
Pagi harinya, dengan perasaan yang luluh lantah, ia pun memungut potongan-potongan kayu sisa peristiwa tadi malam sembari menggutu dalam hati betapa tidak adilnya Tuhan pada dirinya. Sedikit demi sedikit potongan kayu itu ia susun, yah... sedikit menyerupai gubuk. Setidaknya bisa melindunginya dari hujan. Pagi ini adalah tepat seminggu setelah peristiwa yang menenggelamkan kapal laut itu. Kini ia sedikit lega karena sudah memiliki gubuk kecil yang bisa ia gunakan sebagai "home base" selama tinggal di pulau itu. Di balik gundukan potongan kayu, ia pun menemukan kotak menyerupai koper yang tahan air, yang kurang lebih isinya adalah perlengkapan pakaian dan beruntungnya ia menemukan rokok dan korek api. Sebenarnya yang membuatnya senang adalah menemukan korek api. Artinya ia bisa memakan makanan yang layak dengan dimasak. Dengan bergegas ia pun mulai membuat unggun untuk memasak. Seadanya yang bisa ia tangkap di hutan dan dimakan.
Sudah dua hari ia mulai membakar dan merebus makanan yang dijumpainya di hutan, hingga di suatu pagi yang cerah. Seperti biasa ia membuat unggun dan kemudian bergegas berburu di hutan. Sangat gesit ia berburu ayam hutan. Ya... dengan sedikit kegembiraan ia kembali ke "home base" nya itu. Namun setibanya, betapa hancur hatinya menyaksikan "home base" sedang berapi-api terbakar. Cukup besar perapian yang dibuatnya, hingga gubuknya pun terbakar. Akibat angin yang cukup besar siang itu, api mun mulai membakar ranting-ranting kering di sekitarnya sehingga menghasilkan asap yang cukup tebal di langit. Ia pun tak bisa berbuat banyak karena tak mungkin ia memadamkan api hanya dengan mengambil air laut dengan tangannya. Dengan penuh sesak, ia jatuhkan tubuhnya ke pasir pantai, dan menangis sejadi-jadinya. "Tuhaaaannnnn... Teganya Kau pada ku. Sungguh jika engkau inginkan aku mati, mengapa tidak kau suruh saja semua binatang buas di hutan untuk menerkamku. Sungguh ini tidak adil. Apa salah ku Tuhaaaannn?????".
Sedikit ketegaran yang masih tersisa membuatnya bisa bertahan. Mungkin sekali lagi ujian yang datang bisa membuatnya gila. Dua hari sudah dia jalani tanpa semangat. Ia jaga bara api sisa kebakaran untuk memanggang buruannya. Tiba-tiba terdengar suara mesin bercampur deru angin laut. Ia tatap samar-samar, tidak terlihat apapun selalin hamparan laut. Tapi tunggu, disana ada titik kecil yang semakin mendekat. Seperti empat orang berperahu boat. "Apakah itu malaikat maut yang akan mejemputku?" pikirnya. Degup jantungnya pun semakin cepat. Antara senang dan takut bercampur tak jelas. Akhirnya ia pun menghampiri kawanan tersebut. "Ada apa gerangan yang membawa kalian sampai ke sini?". Salah seorang dari mereka pun menjawab. "Beberapa hari yang lalu kami melihat sinyal SOS dari pulau ini, kau sudah membuat sinyal asap kemarin? Kami sudah mengira ada itu pasti dari korban kapal laut yang karam. Gelombang laut tersebut juga menenggelamkan Pulau Suri di malam yang sama. Kini pulau tersebut sudah tak nampak lagi". Bibirnya bergetar dan air matanya menangis. Kali ini bukan mengutuk Tuhannya tapi ia tak berhentinya berucap "Subhanallah....".
"Ya Allah, betapa kami sering membenci takdir-Mu, padahal itu yang terbaik bagi kami. Saya sering lupa bersyukur padahal rezeki-Mu selalu melimpah. Ya Allah ampuni dosa hambaMu ini. Astagfirullah...."
Oleh : Irvan Gumilar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar