Senin, 20 Juni 2011

Kisah Tukang Cukur

Sumber Gambar : http://dejaqfar.co.cc
Di minggu pagi yang cerah, Hasan berniat pergi ke tukang cukur. Terlihat sudah tak nyaman rasanya dengan rambut yang panjang. Jarak kios tukang cukur dari rumahnya cukup dekat, tidak lebih dari 500 m. Jam dinding menunjukan pukul 7 tepat saat Hasan pamit pada istrinya untuk pergi ke tukang cukur. Rumahnya berada di gang sempit dengan deretan rumah-rumah petak disana. Sembari menyapa para tetangga yang sedang berada depan rumah, Hasan menyusuri sepanjang gang. Setelah keluar gang, dia pun belok kiri menuju pertigaan jalan utama dimana kios tukang cukur tersebut berada. Setibanya di sana, ternyata kios tersebut tutup. Entah kenapa, padahal biasanya minggu pun tetap buka.

Akhirnya dia pun memutuskan untuk mencari tukang cukur lain. Sepanjang jalan utama disusurinya hingga sampailah dia di kios tukang cukur yang buka. “Tukang Cukur Selamat”, begitu kurang lebih tulisan di plang depan kiosnya. Sang tukang cukur tampak berusia sekitar 40 tahun-an. Yah, tampak meyakinkan untuk  seorang tukang cukur. Tangannya begitu cekatan memainkan sisir dan gunting dengan sesekali menginstrusikan pada pelanggan untuk memiringkan kepalanya. Ketika Hasan masuk, tampak seorang pelanggan lagi yang sedang menunggu. Berarti dia harus menunggu satu kepala lagi. Itu bukan masalah baginya, karena ia punya cukup waktu luang untuk menunggu. Diambilnya beberapa majalah dan tabloid sembari dibolak-balik mencari sesuatu yang menarik. Tetapi yang ia temui kebanyakan bergambar wanita setengah telanjang. Dia pun memilih tabloid Olah Raga untuk dibacanya.
Tak terasa akhirnya tibalah gilirannya untuk dicukur. Dilangkahkanlah kakinya menuju kursi eksekusi kemudian memberikan instruksi tentang potongan rambut yang diinginkannya. Sang tukang cukur pun memasangkan semacam celemek pada lehernya dan mulailah memainkan sisir dan guntingnya. Tak lama kemudian datanglah dua orang yang tampak sedang terburu-buru masuk dan kemudian duduk menunggu. Tanpa bisa menyembunyikan sikapnya yang memang sedang dikejar agenda, keduanya berbincang tentang persiapan program sosialnya di lembaga zakat. Dengan sesekali membaca hadits dan potongan ayat yang berkaitan dengan zakat, mereka sedang berbincang mengenai program sosial tersebut. Kurang lebih tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan ber-zakat. Namun, baru saja lima menit menunggu keduanya seperti tak punya waktu banyak dan langsung pergi meniggalkan kios tanpa sedikitpun menyapa sang empu-nya kios.
Sang tukang cukur pun langsung berceloteh menymbut kepergian dua orang tersebut.
“Entah kenapa saya benar-benar tak percaya adanya Tuhan.”  katanya.
“Astaghfirullah” gumam Hasan dalam hati. “Kenapa mas berkata seperti itu” sambut Hasan sembari tersenyum.
“Jika Tuhan memang ada, kenapa di dunia ini masih ada orang jahat yang tega menyakiti sesamanya bahkan Tuhan membiarkan hambaNya berpindah keyakinan hanya karena sebungkus mie instan. Apa Tuhan tidak bisa mengurusnya? Kenapa Tuhan tidak memberinya hidayah dan pelajaran?” jawab Sang Tukang Cukur.
Hasan tampak terdiam. Dia kehabisan kata untuk menanggapi jawaban sang tukang cukur tersebut. Akhirnya proses cukur mencukur pun selesai. Tak banyak kata Hasan pun membayar biaya cukur lantas langsung saja pergi meninggalkan kios. Pikirannya masih terfokus pada perkataan si tukang cukur. Ia tidak bisa membiarkan seseorang tak meyakini keberadaan Tuhan. Dalam hatinya berdoa agar Allah SWT memberikannya petunjuk. Baru beberapa meter dia meninggalkan kios, ia menjumpai seorang tukang semir sepatu yang gondrong. Rambutnya tampak tak terurus sehingga menimbulkan kesan jorok. Sesaat ia seperti memperoleh pencerahan dan langsung bergegas kembali ke kios untuk kembali menemui si tukang cukur. Tiba di kios, tampak sang empu sedang bersantai tak ada pelanggan.
“Ada apa anda kembali lagi?” tanya tukang cukur.
“Saya hanya ingin mengatakan, jika anda mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada, maka tukang cukur pun tidak ada” sambut Hasan menjawab sapaan si tukang cukur.
“Kenapa anda mengatakan seperti itu??” tanyanya lagi.
“Jika tukang cukur itu ada, bagaimana mungkin ada orang gondrong tak terurus di depan sana? Apakah tukang cukur tidak bisa mengurusnya?” jawab Hasan.
Tak ingin kalah si tukang cukur pun berujar “Hahaha… Itu memang salahnya sendiri. Kenapa orang itu tidak mencari tukang cukur untuk memotong rambutnya”.
Tak lama tukang semir sepatu berambut gondrong pun menghampiri kios.
“Pak ini uang anda, tadi jatuh ketika anda hendak menuju kemari”
Hasan pun mengambil uang tersebut dan mengucapkan terima kasih. Tukang semir pun tak berlama-lama di kios.
“Nah.. Itu orang gondrong yang saya ceritakan tadi. Dia sudah menemukanmu tukang cukur, tapi kenapa ia tetap gondrog? Artinya tukang cukur memang tidak ada kan?” seloroh Hasan.
Lagi-lagi tukang cukur menanggapinya dengan tertawa “Hahaha… Itu juga salahnya sendiri. Kenapa ia tidak meminta aku untuk mencukurnya”
“Itulah yang aku maksud. Begitu pula dengan peran Tuhan dalam hidupmu. Kamu tidak bisa menunggu, tapi kamu harus mencari bukti bahwa Tuhan memang ada dan itu pun tidak cukup. Kamu harus meminta pula pada Tuhanmu agar ditunjukkan jalan kebenaran sehingga kamu bisa merasakan Tuhan di hatimu. Ini persis seperti apa yang dikatakan dalam Al-Qur’an: Berdo’alah kamu, maka Aku akan mengabulkannya. Berdo’a berarti meminta dan Tuhan sangat senang ketika kita meminta  padaNya”

Oleh  : Irvan Gumilar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar